save our world
Wednesday, August 7, 2019
Tuesday, August 6, 2019
Pramex Jogja-Solo
Tit..tit... Tit... Berkali-kali alarm hp xiomi satu-satunya yang ku punya berbunyi membangunkan ku. Syukurlah aku segera bangun dan bergegas mencari HP mematikan dan melihat Jam, pukul 03.00. dengan keterpaksaan, aku keluar kamar dan mandi. Bukan aku tidak berani karena tempat tinggal baruku di Jogja ini bersebelahan dengan kuburan, tetapi karena dinginnya air yang saat ini terasa sekali. Aku harus mandi dan mengejar kereta lokal Jogja-Solo, yang berangkat sangat pagi 05.49 wib. Ternyata benar, air itu menyejukkan selakigus membuatku kaku.
Setelah ku matikan keran, ku keluar Kamar mandi. Ku tak sengaja merasa ada yang lewat. Aku penasaran ingin sekali men-cek apa itu. Cerita seram sempat terlintas di benak ku. Jangan-jangan ini yang dibilang teman-teman. Tetapi rasa penasaran dan ke laki-laki an ku mengalahkan rasa takut itu. Akupun, pergi ke luar dan melihat basa dengan mata kepalaku, ada wanita mengendap-endap sambil membawa kunci. Spontan akupun bertanya, "siapa itu?". Aku tahu dikontrakkan ini aku bersama enam kawanku. Ku sangka dia salah satu dari enam kawanku yang bangun karena mendengar ku mandi, tetapi setelah menolehkan wajahnya kulihat wajah putih nan cantik dengan pakai celana pendek di bawah lutut. Dia pun menyapa " permisi". Meskipun aku menduga, tetapi dengan dugaan yang sangat kuat bahwa itu teman wanita salah satu enam teman ku. Dia pun keluar dari pintu kontrakan dan hilang entah kemana. Meskipun aku sangat ingin menulisnya disini, namun aku takkan membahas nya lebih jauh. Karena aku sendiri tak tahu tentang urusan apa dia ke kontrakan itu.
Adzan Subuh telah berkumandang, tandan aku harus segera sholat lalu berangkat. Dengan tidak memerlukan waktu lama, aku pun telah siap untuk pergi ke stasiun Maguwo dekat bandara Adisucipto Jogja karena aku telah persiapkan malam dari Sampai jam 22.00 wib. Aku segera membangunkan teman satu kamar, lalu aku keluar kontrakan dan pergi ke jalan raya untuk memesan gojek, maklum untuk menuju kontraanku, melewati jalan buntu. Kasihan pak driver gojek kalau harus berputar-putar.
"Mas Anas", bilang orang yang tak ku kenal dengan berpakaian gojek. Dia segera memutar sepedanya dan mengantarkan ku ke stasiun. Smiriwing angin pagi yang masih sejuk dan suasana yang lengan mengawali hari itu. Pak gojek pun mengendarai sepeda motor dengan kencang. Kita sok akrab berbincang masalah dia dan penumpang yang pernah dia antar. Suasana santai di jalan menuju stasiun menjadi tidak terasa.
Aku sampai di stasiun pukul 04.50 wib. Saat itu aku masih ngantuk menguap nguap. Hanya ada 4 orang di sana. Permisi mbak, saya mau tanya, apakah ini ke solo? Tanyaku. Semakin terlihat langin yang putih remang-remang, semakin banyak yang datang. Kita menunggu di peron yang kelihatan elegan. Bersama banyak penumpang yang menanti kereta datang.
Kereta yang dinanti telah tiba. Penumpang yang berjajar dari tadi dan juga yang baru datang masuk pintu-pintu yang telah dibuka setelah ada aba-aba dari corong suara. Mereka masuk seperti semut yang mengantri dalam lubang sarangnya. Akupun ikut masuk mengikuti mereka, maklu ini pertama kalinya. Wah... Ternyata ibu-ibu itu cukup pintar. Mereka bawa kursi kecil yang dapat dilipat dan dimasukan tas. Ya, memang kereta lokal itu, kursi-kursi nya telah penuh, dan jatah kami yang ke solo hanya dapat berdiri. Tetapi para ibu-ibu itu telah sedia kursi sebelum berdiri seperti saya. Getarannnya terasa harus, hanya sedikit suara yang khas, membuatku berdiri hanya bersandaran tiang kecil tanpa pegangan. Mungkin lain kali aku mau bawa kertas kardus, supaya bisa duduk di lantai hehehe.
Monday, August 5, 2019
On the Way: sby-jogja
"Jalan ku hempas dan ku sentuh dia..."
Lantunan lagu itu mengetarkan gendang telingaku sepanjang jalan ini. Mengingatkanku tentang masa muda yang suka hura-hura, tanpa tanggungjawab berlebih, dan pergi ke sana kemari tanpa mikir. Ya itulah hidup, perubahan pasti ada. Sebagaimana sore ini perjalanan ke Jogja. Ada yang beda memang: naik bus dari Lamongan ke surabaya, tapi hari ini aku bersepeda motor. Biasanya aku naik bus Mira atau Sugeng, tetapi kini ku naik Mandala. Biasanya aku melihat hutan di Nganjuk sampai Ngawi, tapi ku sekarang lihat tol mulus tak bergelombang. Meskipun berbeda, namun aku masih tidak begitu tertarik. Mungkin syukur yang kurang, yang membuat ini
Musik itu kini telah berubah, lagu Krisye, ".. kejarlah keinginanmu selagi ada waktu... " aku masih saja menikmatinya, namun mengapa hati ini masih saja bergetar penuh gelisah, bukan karena bus yang dari tadi menggoyang-goyang diriku,bukan juga karena aku sakit. Munkim karena masih ada yang menahanku untuk pergi. Tetapi jika aku tidak pergi, mungkinkah akan mengejar keinginanku. Ini nampak egois, tetapi bagaimanapun apa yang ku lakukan akan berdampak pada mu.
Seribu alasan aku pergi ini, tetap saja mengapa hati ini masih rindu. Padahal belum seharian aku meninggalkanmu. Tetapi ragu dengan kesehatan mu dan si dia yang dalam penantian yang membuatku tegar pergi untuk mencapai tujuan.
Lagu telah berubah lagi
"... Aku pergi walau tak bersama dia.."
Seribu alasan aku pergi ini, tetap saja mengapa hati ini masih rindu. Padahal belum seharian aku meninggalkanmu. Tetapi ragu dengan kesehatan mu dan si dia yang dalam penantian yang membuatku tegar pergi untuk mencapai tujuan.
Lagu telah berubah lagi
"... Aku pergi walau tak bersama dia.."
Tuesday, July 30, 2019
Kopi dan Pasar
Aku sangat jarang melakukan ini, ngopi di pagi hari di pasar. Kopi setengah pahit itu ternyata enak juga, menyegarkan pikiran yang lagi suntuk dengan urusan uang dan uang. Memang dunia isinya apa cuma itu-itu saja, padahal masih ada urusan yang mulia, namun saya dan orang disekelilingku masih saja itu yang paling utama. Oh, tak tahulah, aku coba untuk merubahnya tetapi masih saja itu menghampiri disetiap urusan.
Kopi telah ku pesan, sambil menunggu ibukku belanja. Rasa pahitnya membuka mata, menembus syaraf-syaraf otakku. Aku pun larut dengan pembicaraan orang di warung kopi itu. Mendengar kan berbagai topik seperti pilihan desa, info berbagai desa, receh-receh tetapi menarik. Meskipun aku tidak begitu memperhatikan nya
Kopi telah ku pesan, sambil menunggu ibukku belanja. Rasa pahitnya membuka mata, menembus syaraf-syaraf otakku. Aku pun larut dengan pembicaraan orang di warung kopi itu. Mendengar kan berbagai topik seperti pilihan desa, info berbagai desa, receh-receh tetapi menarik. Meskipun aku tidak begitu memperhatikan nya
Monday, July 29, 2019
Membalik Rezeki
Diantara terjalnya gundukan tanah itu ada seorang wanita tua yang perkasa. Meski terik matahari membakar kulitnya, dia masih bertahan dengan topi bundarnya. Dia membawa tuas kecil yang sangat kuat. Senjata yang ia gunakan untuk mencongkel tanah yang sudah bercelah besar. Satu persatu congkelan gundukan dia lakukan untuk membalik tanah supaya subur. Tubuh kurusnya telah berkeringat deras.
Syukur, ada alat itu yang setia membantunya. Alat itu memang sakti, coba tanpa tuas itu? Apakah dia akan menggunakan tangan kasarnya? Iya, alat itu namanya "linggis". Pesawat sederhana kecil yang aku dulu pernah pelajari di bangku SMP.
Meskipun demikian, upayanya tidak sia-sia. Hampir satu lahan hampir rata dia congkel dengan upaya keras. Hampir 15 hari dia telah lakukan ini. Demi upaya membalik rejeki yang mungkin dia akan nikmati di kemudian hari, meski hanya ratusan ribu, tetapi rasa syukur tetap menjadi pilihan nomor satu. Karena, dengan cara itu dia telah menghidupiku. Terima kasih ibu.
Sunday, October 14, 2018
Pengalaman di Jogya
Saya masih mengingat betul bahwa saya tidak sama sekali berniat untuk tinggal di Jogja. Aku di Jogja memang sangat kebetualan, bagaimana tidak ketika itu ada teman yang ingin mendaftar beasiswa. Teman saya ingin mendaftar ke Jakarta, namun dia ingin ada teman ketika mengurus administrasi pendaftaran. Akhirnya teman saya itu meminta aku untuk mendampinginya dalam mengurus administrasi tersebut. Pada awalnya saya tidak tertarik, wong berpikir untuk ikut mendaftar juga tidak. Aku hanya memikirkan urusanku. Pada waktu itu saya hanyalah soerang pengajar di Surabaya yang setiap harinya hanya menjadi seorang guru. Pagi berangkat mengajar, sore pun saya mengajar, bahkan malam aku juga mengajar. Bagaimanapun, hidupku dulu dipenuhi dengan anak-anak baik anak SMP, SMA, bahkan juga mahasiswa. Namun nasip tidak dapat diduga, saya sekarang berlabu di Jogja, dimana disini sekarang aku hanya melamun dan memikirkan kapan aku harus kembali ke Surabaya.
Tuesday, April 24, 2018
Pembelajaran Fisika dengan Software Pembelajaran Terbaru
Belajar fisika akan sangat membosankan bila hanya menampilkan rumus-rumus saja. Perlu bagi seorang guru fisika berinovasi, supaya belajar fisika lebih menyenangkan. Banyak metode dan media pembelajaran yang menarik dapat digunakan salah satunya adalah Lectora Inspring 7.
Software ini sangat menarik dan mudah digunakan. Tampilan menarik dapat dilihat dari vitur yang disediakan, fitur tersebut berupa tampilan seperti web yang dapat menghubungkan antar slide dengan menu, fitur tentang quizz untuk membuat soal, fitur animasi, fitur karakter, dan masih banyak yang lain. Keunggulan yang lain adalah hasil yang kita desain dapat diuploud ke dalam Moodle atau LMS yang menyediakan Scroom. Lektora sangat mudah digunakan seperti mendesain PowerPoint, karena tampilannya dalam slide.
Untuk mendapatkan shofwere nya anda dapat medownload link di bawah ini.
Subscribe to:
Comments (Atom)
-
"Status pernikahan atau pernikahan sebagai status" kata yang di dalam petik ada dua sisi yang berbeda 1.pernikahan sebagai status ...
-
Pada malam sekitar jam 08.30 setelah aku sampai di kos. Sesuatu yang aneh terjadi lagi. Setiap masuk kos selalu ku mencium bau harum. Bau ...









