Tuesday, September 17, 2013

Lereng Gunung

Apa yang sedang kau cari? Pekerjaan atau ilmu atau ridho ilahi? Jarum tajam siap menghunus. Batu-batu itu nampak semrawut. Aspal sudah terkelupas. Batu itu seakan terlahir dengan ujung runcingnya. Mereka bahkan bisa saja menjebolkan pertahanan sepeda motorku. Tentu jebolnya ban sepeda motorku berarti jebol pula pengeluaranku untuk nambal atau ganti yang baru.

Kiri-kanan kulihat saja banyak pohon jati yang merana. Ku bukan bernyanyi tapi ini kenyataan yang sepi perhatian. Pohon jati itu telah banyak menggugurkan daun mereka sendiri. Musim kering sudah tiba, seperti keringnya kantong dompet dari gambar Sukarno-Hatta atau gambar Ngurarai. Hanya tinggal  pangeran Patimura yang sedang membawa samurai siap menebas permen-permen di toko sebelah ketika mulut kering dan pahit.

Kucoba masuk ke dalam jalanan beraspal tipis dan berbatu. Aku ragu di dalam sana ada perumahan atau sekolahan. Semakin dalam sepeda motor menerobos jalan makadam, semakin culas batu-batu itu menikam-nikam ban sepeda motor.

Terlihat sedikit kehidupan!!! Masjid besar dengan arsitektur mewah terlihat di depan mata. Debu-debu berputar-putar seperti di film the mummy. Debu-debu sisa-sisa semen itu ditiup angin. Debu itu menghujani masjid yang memang belum jadi betul. Besar, sangat besar menurutku. Tetapi mengapa diletakkan di dalam hutan lereng gunung? penasaran semakin menjadi-jadi. Laju sepeda motor kupelankan.

Di samping masjid itu ada beberapa tukang batu sedang asyik dengan keringatnya. Mereka memanjat bangunan yang mirip dengan pensil-pensil yang dioroti menghadap ke atas. Memang sih tidak tabung. Pensil gepeng, kalau kusebut dalam anganku. Pensil gepeng itu berjajar banyak. Di depan bangunan itu ada gambar dan tulisan. Gambarnya memang tidak asing. Gambar itu ku dekati. Memang gambar itu adalah gambar kementrian perumahan. Di bawah gambar dan tulisan seperti kop yang ada keterangan bahwa bangunan itu adalah bangunan rumah susun pondok pesantren Al Ishlah.

Sepeda motorku masih saja berbunyi, guncangan bebek yang memang sudah kendor semua. Ditambah terjalnya jalan seperti menabuh plastik bertubi-tubi. Suaranya memang memalukan hati. Di belakang masjid ada bangunan yang tidak kalah. Bangunan yang memamang baru itu besar juga. Itu adalah bangunan sekolah.

Aku sampai juga diparkiran. Anak-anak berkopyah terlihat polos-polos. Mereka melihati saya, mengkin heran. Kenapa ada DPR kesini hehehe... bukan-bukan, mereka heran karena mungkin tidak pernah ketemu aku.

Aku tanya pada salah seorang diantara mereka. Mana sekolah aliyah kelas XII? memang benar-benar santri. Dia membungkukkan badan sanbil mengacungkan ibu jarinya seperti memberikan like kepada saya. Ibu jari itu mengarah pada arah tertentu. Akupun bilang pada dia "terimaksih ya dek". 

Aku menuju ke kelas XII. Kemudian ku masuk. Wanita berkurudung putih, duhai indah sekali, ingin ku kenal siapa meraka itu?. Aku ucapkan salam. "Assalamu'alaikum" mereka pun menjawabinya dengan serentak "wa'alaikumsalam wr. wb." Benar ini kelas XII. "Iya pak" jawab mereka. Saya kemudian basa-basi. "Ma'af saya telat, dan insyaAllah akan selalu telat sekitar 10 menit" Bilangku. 

Kepada anak itu, aku jelaskan alasanku telat dan mengatakan seperti itu. Mereka pun menyadari kundisi itu. Ku tanya pada mereka, mana yang laki-laki? kok cuma dua? mereka bilang bahwa temannya masih perjalanan menuju kelas. Tidak lama kemudian datang robongan laki-laki berkopyah. Sayang mereka ada yang pakai sepatu putih, sepatu olah raga, ada pula yang tidak memakai alas kaki. Mereka pun ada yang memakai tas, ada pula yang hanya satu buku. Ada pula yang tidak membawa buku.

Lantas akupun memberikan beberapa peringatan kepada mereka. Lain kali ketika waktu saya, harus membawa paling tidak buku dan bulpen. Karena ilmu itu seperti burung. Dia akan gampang terbang. Maka alat untuk menangkapnya adalah pulpen yang kamu tuliskan di buku tersebut.

Anak-anak mengajak berkenalan dan kita tahu sama lain. Mereka memang anak-anak yang polos. Aku tahu mereka potensinya besar untuk jadi anak yang besar baiknya. Aku yakin jika sekolah ini diatur dengan baik, hasilnya juga akan baik.

Dibalik jendela. Pohon jati melambai-lambai. Mengajak menari di tanah yang luas hamparan rumput yang sudah menguning. batu-batu menjulang inggi disekelilingnya. Menambah ekotisnya panorama. Memang sekolah ini di dalam hutan. Tapi tidak terlalu jauh dari jalan raya. Aku tahu potensi sekolah ini besar, sebesar cita-cita Kiyai. Aku tahu sekolah ini akan jadi besar, sebesar luasnya tanah yang menghampar disekelilingnya. Aku tahu seakolah ini akan besar, sebesar batu-batu gunung yang menjulang disamping kanan kiri depan belakang.

Semoga!!! ini doa guru baru yang masih tak tahu.

SOP

Sinar sentrong matahari mengenyirkan mata. Melawan sinar matahari memang bisa membuat jalan raya tidak terlihat. Truk-truk di depan terlihat saat posisi sepeda motor ini mendekat saja. Tapi apa boleh buat, surat pernyataan sudah ditandatangani. Apa boleh buat mulut sudah bilang iya. Tapi memang ada baiknya juga. Sinar matahari pagi membuat vitamin d terbentuk. Terjadinya osteoporosis bisa dicegah. Mudah-mudahan berkah.... (bukan kampanye).
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di tempat yang memang tidak asing yaitu PCNU Gresik. Kemari kita di sini dan sekarang di sini. Di hari kedua pelatihan SOP ini ruangan masih tidak berpenghuni. Hanya ocehan burung gereja yang lirih-lirih. Juga suara mobil-mobil berbadan gemuk dengan mesin gendut seakan mau berak. Mengeluarkan kotoran hitam berupa timbal-timbal dan gas monoksida serta campuran gas dioksida.
Berbadan gendut lagi pendek hehehe.... tapi cantik, sosok yang juga lagi-lagi tidak asing. Dia adalah wanita yang dulu menjaga perpus saat ku sekolah Aliyah dulu. Dia datang berseta rombongan lengkap dengan seaserahan yang seperti mahar berupa kabel oloran dan beberapa nasi bungkus yang dibawa oleh anak-anak Osis. Teman guru matematika ternyata juga telah datang. Dia menyapaku dengan senyumnya yang khas “Cek pagine...” bilangnya. Saya pun cuma melebarkan mulut sambil memamerkan gigi. Beberapa menit setelah itu, hadir teman-teman guru yang lain. Semakin lama akhirnya semakin lama-semakin banyak.
***
Dibalik kekisruhan dan kesemrawutan otak. Ingin sekali kulampiaskan dengan rokok dan menyendiri ditepi gunung yang terpenghuni atau menyendiri di tepi lautan. Tetapi undangan dari sekolah untuk menghadiri acara SOP menjadi lebih penting dari pada pelampiasan yang hanya sedikit arti. Sesekali ku hanya berpikir dengan pikiran su’udhonku. Jangan-jangan pelatihan ini sama saja dengan pelatihan yang biasanya ku ikuti. Pelatihan yang membuat semangat pada awalnya tapi beberapa hari berikutnya menjadi biasa dan tak berbekas.
Semula aku hanya menyadari bahwa pelatihan hanyalah sekedar omong kosong tanpa bukti. Ya... Mr. Nafi’ namanya. Dia katanya master of trainer. Dia sering keliling dunia. Dia katanya sering melatih di wilayah Indonesia. Berbagai penghargaan yang juga katanya dia raih. Dia juga telah menerbitkan beberapa buku. Dia katanya juga telah menerainer sekolah di Bungah Assa’adah. Dia juga telah melakukan pendampiangan di sana. Ok... ok... usai juga katanya sekarang saya mau lihat bukti.
Semula aku pesimis ini akan menghibur. Karena hiburanku telah menjadi bubur. Ok ini telah berahir, masalahku hanyalah sebuah takdir. Ok... masalahku... biarlah menjadi benakku. Ok.. masalahku biar dia melayang-layang disekitar otakku. Aku semula hanya kabur dan tertutup oleh kecilnya usaha yang lebih menggantungkan ketetapan takdir. Seperti besarnya ketentuan gunung dan kecilnya kerikil usaha. Mudah-mudahan pelatihan ini membawa perubahan.
Tangan diangkat... digerakkan... dipakai menghitung.... satu, dua, tiga.... sepuluh. Sekalarang kedua tangan... kita tulis di awan... satu, dua, tiga,... sepuluh. Sekarang kaki kiri diangkat... kita pakai menulis satu, dua, tiga,.... sepuluh. Sekarang pinggul kita pakai menulis angka... satu, dua, tiga... sepluh. Semua ikut intruksi, termasuk pak Kiyai. Benar-benar kompak. Termasuk pak satpam, termasuk guru2. Semua tertawa. Semua ada makna. Semua gerak bercerita. Memang tiadak materi terucap, tapi terpikirkan sendiri dalam angan-angan.
Tanyangan demi tanyangan berisi gambar. Mercerita tangtang kerapain sepatu yang ditata rapi, tentang membuang sampah pada tempatnya, tentang tertib makan, tentang cara masuk kelas, menyambut siswa, menjawab tlpn. Semua terukur dan dapat dievaluasi. Semua teratur sesuai kaidah ahlak yang islami. Alangkah indahnya bila ini terbawa menjadi karakter diri, karakter siswa, karakter guru dan seterusnya. Mudah muahan karakter ini akan membawa semangatknya bentuk usahaku untuk menghalau pesimis dan mempersilahkan masuk semua bentuk optimis. Semoga

Manusia Misterius

Pada malam sekitar jam 08.30 setelah aku sampai di kos. Sesuatu yang aneh terjadi lagi. Setiap masuk kos selalu ku mencium bau harum. Bau itu mengelitik lalu menyengat kedua lubang hidungku. Setiap kali itu aku harus memutar rekaman cerita di otak yang pernah kudengar saat tadarus di Masjid Al Ikhlas dulu sebelum ngekos. Cerita misterius tentang orang misterius yang sekarang menjadi tetangga kos satu rumah ini.

Tengkorak-tengkorak sedang melotot. Dengan satu matanya ditutupi kain hitam. Seolah pasukan dari neraka bajak laut sedang mengintaiku. Mereka merasuk dalam dinding-dinding kamarku. Gelap mendung menyelimuti bumi. Matahari yang sudah terbenam membuat awan sedang memejamkan mata. Suasana semakin mencekam ketika  dinding-dinding graviti itu berbekas seperti darah merah.   Seonggok samurai sudah siap ku gunakan jika tengkorak bajak laut itu menyerang.  Untung lentera neon masih dapat menyala. Semakin jelaslah tengkorak-tengkorak itu hanyalah lukisan bekas anak-anak kreatif dengan sejuta ide sebelum ku menempati kos ini.

Baling-baling halikopter tidak kalah. Baling-baling dengan ukuran radius 30 cm baru saja berputar. Dengan suara bising merata di seluruh ruangan. Hembusan angin menghantam-hantam badan. Tidak Kalah dengan angin pantai yang kencang. Tidak ada ombak memang, tapi paling tidak angin itu mengusir nyamuk dan bala tentaranya. Petakan kamar ini dengan ukuran 3 x 7 m2 dengan dua kipas memang lebih dari cukup.
Tak apalah sendiri di sini. “Wong aku punya teman lucu yang ku bawa dan setia”. Dia tidak punya mulut, tapi bisa menyanyi. Dia tak punya perasaan, tapi bisa ku pakai untuk menuliskan curahan perasaan. Dia tak punya otak, tapi dia akan menjawab segala pertanyaanku jika sambung dengan internet. Ya inilah laptop ku.

Cerita ini bermula dari keraguan dan pertanyaan. Apa benar ini orang yang pernah kudengar sebelumnya? Apa benar orang setengah tua itu adalah dukun dengan kesaktian luar biasa yang pernah ku dengar? Apa benar orang ini adalah orang yang bisa mengusir dan mendatangkan jin? Entah benar apa tidak, yang jelas sekarang dihadapanku adalah relita yang bercampur mistis.

Kalau tidak benar, mengapa banyak orang-yang hilir mudik ke kos ini? Dengan tamu yang juga aneh menurutku. Seperti malam ini aku bertemu dengan tamunya. Tamu dengan wajah seperti preman. Berambut gondrong.  Dengan asesoris gelang hitam di tangannya. Tidak lupa rantai di lehernya juga ada. Tanpa senyum sedikitpun dibibirnya. Wajah hitam dengan tebal kumisnya. Kemarin ku lihat tamunya orang yang perlente, memakai baju mewah seperti orang kaya. Sedikitpun tidak ada indikasi orang yang baik. Tapi aku juga tidak bisa memvonis seperti itu.

Dulu saat di Al Ikhlas , saat ku tadarus malam romadhon. Aku dengar dia sering berkeliling beberapa kota. Katanya dia sering dipanggil orang untuk mengusir jin-jin di rumah-rumah berhantu. Saat dulu juga ku mendengar dia tidak pernah ke masjid. Tidak pernah ikut jum’atan. Padahal dia bersarung dan berbaju taqwo saerta berkopyah putih.

Dia sering berada dikamar. Entah apa yang dilakukan dikamarnya. Yang kulihat kamarnya memang sangat kecil. Bahkan kamarnya seper tiga dari kamar kosku. Di kamarnya juga banyak barang-barang misterius. Tentu saja saya tidak mau terlalu banyak menengok saat melewati kamar pintunya terbuka.

Saat pertama kali aku bertemu dengan orang ini, saat mencari kos bersama temanku. Temanku sudah curiga. “Orang ini aneh, masak dia bilang meskipun saya musafir tapi ku tahu tentang agama” kata temanku “harusnya kan dia bilang, meskipun saya musafir tetapi saya tahu betul kota ini. Atau bilang meskipun saya mu’alaf saya tahu tentang agama”. Tapi aku tidak begitu mau membahasnya saat itu. Mungkin maksudnya dia itu tahu tentang agama. Orang ini sering ku lihat bersarung. Berapakaian serba putih. Dangan kalung bundar besar. Seperti terbuat dari tembaga tua bertulisan. Entah apa tulisannya. Tetapi pada saat santai, dia juga tidak pernah melepas kalung itu.

Bau harum itu terus saja berhembus bahkan sampai di kamar. Dia memang ramah. Orang yang berbadan besar dan tinggi ini juga sering menyapa. Tetapi yang membuat aneh, dia sering berbicara sendiri di kamarnya. Aktivitas yang sering adalah menyendiri di kamar, membuat aku jarang bercengkrama. Badannya sepertinya berotot. Pasti ku akan kalah kalau bergulat dengannya. Entah kenapa dia ngekos di sini. Kata orang dia ingin mengambil jimat kramat dari surabaya. Entah benar apa tidak akau tidak tahu. Yang jelas aku tidak mau membesar-membesarkan kata orang. Wong masalahku saja besar. Mengapa mengurusi kata orang yang akan membuat masalah semakin membesar.

Sekarang biarlah tengkorak-tengkorak dengan tulisan dibawahnya supermen is dead melototi ku. Biarlah kipas halikopter tetap berputar. Entah dia itu siapa, aku tetap harus tinggal di sini untuk sementara.

Tidak untuk Dibaca

Iya judul ini lah yang menurutku sangat cocok dengan tulisan ini. Karena tulisan ini bukan untuk dibaca tapi dimengerti. Karena bukan untuk pembaca tapi untuk dia yang sekarang sangat mungkin tidak mengerti internet apalagi blog seperti ini. Karena tulisan ini hanyah curahan isi hati. Jika Anda terpaksa membaca ya... silahkan tapi nganggur sekali. Siapa dan untuk siapa, Anda mungkin belum tahu.

Baiklah tulisan ini akan kumulai dengan kata “mungkin kamu tidak mengeri”.

Mungkin kamu tidak mengerti apa yang ada di hati sekarang ini. Sehingga aku ingin mengungkapkan lewat tulisan ini. Sudah lama aku ingin menuliskannya, tapi sekarang aku tidak mau menutupinya. Saya tidak kuat lagi menyimpannya di hati. Mungkin ini akan mengobati kerinduan bertemu dan mengatakan ini padamu bahwa aku sangat mencintai mu.

Benar saya sangat sayang padamu. Meski kita hanya berpandangan. Meski kita hanya saling menyimpan dalam hati. Tapi aku ingin terus terang saya sangat cinta padamu. Oleh karena itu saya sangat ingin kamu mengatakan bahwa kamu juga cinta padaku. Sementara aku tidak pernah mendengar dari bibirmu yang mempesona.

Aku tidak pernah tahu apa yang ada dalam hatimu. Apakah kamu cinta padaku. Kita tidak pernah berkomunikasi bahkan menjelang pernikahan kita. Hal itu membuat hati galau sengah mati. Hampir beberapa hari ini saya sulit tidur. Bukan memikirkan apakah kamu cinta padaku. Tapi lebih dari itu. Apakah kamu siap berjalan, bergandengan tangan, mencurahkan isi hatimu, menjadi motivatorku, menjadi pendamping setiap apa yang kubutuhkan  sebagai suami istri selayaknya suami istri pada umumnya selama sisa umur kita.

Pernah Mbak ku bertaanya padaku “Hubungan kalian ini aneh”. Kok bisa-bisanya tidak pernah sayang-sayangan tapi kok mau menikah”.  Pernah teman yang juga saya yakin dia sangat mati-matian mengerjarku bercerita tentang kehidupan masnya yang bercerai karena si istri tidak mau bercinta, berkomunikasi, dan tidak berjalan seperti layaknya suami istri. Aku juga melihat sendiri sepupuku bercerai karena tidak ada kejujuran sebelum mereka menikah. Suaminya tahu bahwa sepupuku itu ada kelainan jiwa. Memang keuarganya tidak memberitahu calon suaminya itu. Tetapi ketika setelah mereka menikah, baru tahu bahwa sepupuku setengah gila. Kadang-kadang kumat gilanya, kadang-kadang waras. Memang itu semuanya berbeda dengan keadaanku sekarang. Tapi karena semua itu pernah ku dengar bahkan ku lihat. Sehingga tidurpun menjadi tidak nyenyak. Takut terjadi perceraian ketika nanti kita telah menikah.

Aku takut sekali mengecewakanmu. Bahkan bisa saja kita bercerai di tengah waktu. Bisa saja perceraian dari tuntutanmu karena ketidak sempurnaanku. Bisa saja perceraian terjadi karena tuntutanku karena ada perubahan dalam pikiran ini setelah menikah. Jujur aku tidak berpikir negatif dengan mu. Aku hanya memikirkan bagaimana kamu dan aku berkomitmen untuk selalu setia. Bahkan aku ingin curhat kepadamu bahwa aku sampai sekarang belum bisa menafkahi secara materi. Jelas wong aku cuma guru yang gajinya hanya mentok ya 500 ribu. Kamu juga tidak tahu bahwa aku punya seribu ketidak sempurnaan.

Aku tidak mau tulisan ini kamu baca. Karena tulisan ini hanya untuk menyenangkan hati. Bahkan aku tidak memakai kata-kata hiperbolis atau ambigu. Karena aku ingin semuanya jelas ini dari isi hatiku. Aku hanya ingin mencurahkan uneg-uneg tentang apa yang kupikirkan dengan jujur tanpa ditutupi dengan kata-kata bermakna.

“Trus apa rencanamu nas?” dalam hati ini berkata.

Rencanaku. Pertama:
Aku ingin berbicara pada mu. Aku ingin kamu sekali saja sebelum saya ijab kobul dengan bapak atau wali hakimmu, kamu bilang kamu cinta pada ku. Atau paling tidak kamu mengangguk di depanku ketika ku tanya “Apakah kamu siap hidup bersama ku sampai ahir hayat menjemput salah satu di antara kita?”. Itu penting bagiku, karena aku tidak mau ada yang salah ketika pembeli sudah meninggalkan majlis kemudian ada cacat barang yang dia beli lau berkata “saya ingin tukar dengan barang yang baru” jika itu khiyar majlis.  

Kedua:
Kalupun langkah itu tidak terlaksana. Aku ingin tanyak kepada bapakmu. “Apakah dia rela pak? Apakah bapak ketika meng iyakan lamaranku. Bapak sudah meminta persetujuannya?”. Kalu sudah saya rela pak. Kalau belum saya belum rela. Karena saya tidak menikah dengan bapak. Saya ingin menikahi putri bapak”. Itu alasanku.

Ketiga:
Kalupun itu tidak terlaksana. Aku ingin sekali lihat sumber-sumber yang dipercaya. Seperti temanku yang telah menjadi penghubung kita. Apakah dia memang telah mengiyakan?.

Langkah yang ketiga ini sebenarnya sudah kutanyakan. Tetapi temanku belum menjawab dengan jawaban yang pasti. Makanya kutulis alternatif solusi untuk menjawab pertanyaanku apakah dia cinta padaku. Semua langkah itu akan kulakukan dari ketiga sampai pertama. Itu saja tulisan ini kubuat untuk tidak disabarkan.

Kalau ada yang membaca tulisan ini. Tolong jangan disebarkan. Cukup disimpan dalam hati atau memberi saran lewat komentar di bawah. Karena terus terang ini alternatif terahirku untuk meringan beban hati yang telah berton-ton kubawa sejak bertemu dengan dia. Terimakasih untuk yang membaca (kalau ada yang membaca).  Bagi yang telah berkeluarga aku doakan semoga yang membaca bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah warohmah . Bagi yang jomblo laki-laki semoga diberi istri yang cantik dan sholehah. Bagi yang perempuan semoga mendapat laki-lai yang ganteng dan sholeh. Sekian dari  saya surat yang tak perlu dibaca ini.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    


Ambarukmo plaza vs pasar tradisional