Friday, June 28, 2013

Igau Sang Uban


Hari ini aku liburan di rumah saja. Aku tidak kemana-mana. Hari ini aku sedih karena ibuku barusan sakit. Kakinya terkilir sehingga lutut tak dapat dibengkokkan. Di samping rumah ku ada rumah nenek yang juga sakit. Nenekku sudah sakit setahun yang lalu. Dia tak bisa berjalan. Nenek tinggal bersama paman yang merupakan saudara ibukku yang paling muda. Nenek dirawat anak-anaknya dengan bergantiaan termasuk ibukku. Meraka menjadwal sendiri dan istiqomah. Ada yang membantu mencuci pakeannya. Ada yang membantu membuatkan dan menyuapi makanan. Ada pula yang menemani ketika tidur. Membersihkan buang air besarnya. Membersihkan tempat tidurnya.
Di lorong gelap penghubung antara jurang surga dan neraka. Lorong rendah yang lama kelamaan mendaki. Seorang wanita setengah tua menggendong anak yang lucu dan manis. Pendiam dan tak banyak gerak. Sepi terasa meski hari terang tetapi kegelapan lorong itu meneror wanita setengah tua. Ketika langkah pertama wanita itu dipanjatkan. Bunyi kluk pada kakinya terasa agak nyaring. Sejak itulah wanita setengah tua itu tidak bisa membengkokkan sendi lututnya. Lorong itu lorong penghubung rumahku dan rumah nenek. Anak yang digendong ibuku itu adalah anaknya bibik yang tinggal bersama nenek dititpkan ke ibukku. Sedangkan ibunya sendiri menghadiri acara pernikahan tetangga.
Sejak kejadian itu kini ibukku tak bisa berjalan sempurna. Seolah dia bermain enggrang yang tak bisa ditekuk. Sayangnya enggrang itu dipasang di pinggulnya bukan di betisnya. Sudah dua kali aku mengantar ibukku ke dukun urut. Tetapi hasilnya nihil tanpa hasil. Aku juga sudah ke dokter, kata dokter bahwa urat orang tuaku sudah lemah. Aku menyadari dengan umur 54 tahun pasti  sudah tua. Suntik ditusuk dan obat disodorkan dengan tulisan 2 x 1.

Wanita tua dengan uban disekujur rambutnya. Wanita ini kadang bercerita yang tidak masuk di akal. Aku sebenarnya malas mendengar ceritanya. Aku sempatkan untuk mendengar meski tidak kumasukkan dalam telinga. Wanita tua ini adalah nenekku. Nenek yang sekian lama sudah memberi tahu tentang makna hidup. Nenek yang menyangi cucunya terutama aku.
Liburan ini meski aku tak ada agenda. Tetapi agenda seakan datang secara sendirinya. Aku yang mengantar ibuku bolak balik untuk berobat. Memang dompet lagi tipis tetapi rasanya masih cukup untuk biaya berobat itu. Aku senang karena aku bisa mengantar beliau. Mumpung beliau masih ada. Aku ingin sekali membahagiakan beliau.
Wanita tua itu mengintip dibalik pintu yang terbuka. Dengan pakean compang camping tidak dikancingkan. Sewek yang dipakai tak ditata selayaknya. Kerudng yang disampirkan di pundaknya. Aku melihatnya ketika ku sampai mengantar ibuku berobat. Dia juga melihatku seolah ingin berkunjung melihat keadaan anaknya yang sekarang lagi sakit.
Setelah ibukku sampai di tempat duduk empuk berwarna hijau. Aku keluar menuju rumah nenekku. Kemudian dia bertanya kepadaku. “Her makmu gak opo-opo?” (“her “nama panggilannku. Ibumu tidak apa-apa) ku jawab dengan sedikit rendah dan lembut “Mboeten nopo-nopo mbok” (tidak apa-apa nek). Kata nenekku lagi, bahwa dia ingin ke rumahku melihat ibukku. Bisa nek ya. dengan sedikit tenaga, ku bopong ke rumahku. Sesampai di rumah nampak banyak sekali cerita dari nenekku kepada ibuku.
Kini ibuku masuk ke dalam ruangan untuk mengambil barang-barang yang ingin dimasaknya. Meski ibuku sakit  tetapi beliau aktif membersihkan lantai dan mau memasak untuk keluarga. Tinggallah aku dan nenekku. Dia mulai bercerita tentang kejadian yang menurtku tidak masuk akal.
Kata nenekku, dia baru saja mengunjungi rumah keponakannya yang sangat jauh sebanyak tiga kali. Diasana dia disambut bangga. Mereka kagum dengan dia. Bagaimana bisa dia dengan kondisi tidak bisa berjalan tetapi mampir ke sana tiga kali, katanya. Katanya lagi, lho kok lantaimu putih sejak kapan rumahmu dilantai putih. Padahal lantai ku sudah diubin hampir 12 tahun.  Katanya lagi, dia juga sering berkunjung ke rumah mbakku yang letaknya juga jauh dari rumah. Dia juga bercerita  tentang sakitnya. Banyak sekali ceritanya. Akupun tidak mempercayainya. Aku hanya menangguk sambil mengetik cerita ini. Aku bukan tidak menghiraukannya, karena sesekali saya juga bertanya” Mimpi kali nek ya?
Ketika aku menanggapi dengan kata mimpi ya? Beliau membentak saya dan mengatakan itu bukan mimpi tetapi kenyataan. Aku masih tetap tidak percaya. Ku tanya kembali, kalau kerumah mbak jalan atau merangkak. Dia tidak bisa menjawab salah satunya. Dia hanya menjawab ya ndak tahu tetapi saya sungguh sering berkunjung ke rumah embakmu. Ok-ok... Saya percaya sekarang dalam hati bahwa dia bermimpi.
Aku kini sadar bahwa ketika orang tua yang sudah udur itu akan sulit membedakan antara kenyataan dan impian. Mereka ingin sekali berjalan. Ingin sekali berkunjung  ke rumah tetangga dan saudara. Sehingga keinginannya itu sampai terbawa sampai mimpi. Apalagi memori otak sudah tidak dapat dikontrol. Menjadikan kejadian dalam mimpi diangkat dalam dunia asli. Dia tidak sadar yang diceritakan adalah mimpi dan yang nyata ternyata adalah mimpi. Bahkan bisa jadi antara kejadian nyata dan mimpi tiada beda.
Makanya ingat pesen Nabi “gunakan usia mudahmu sebelum datang usia tuamu”. 

No comments:

Post a Comment

Ambarukmo plaza vs pasar tradisional