Thursday, July 25, 2013

Selingkuh

Seruput kopi menambah kesegaran setelah sedikit kantuk tak diundang datang di angkringan warkop. Wajah segar sepeti blewah kuning yang sudah dikupas menambah kesegaran dingin malam. Senyumnya memang tidak sesuai dengan hatinya. Meski dia berbicara dengan tersenyum tetapi pertanyaanku meledak seperti balon yang kebanjiran udara. Kenapa dia masih tersenyum walaupun paku-paku sudah ditancapkan satu-persatu? Lalu siapa yang salah, dia memang tidak berdaya? Aku juga tidak bisa menyalahkan istrinya berbuat seperti itu? Tetapi apakah harus, untuk menuntut sesuatu sembunyi-sembunyi menebar racun pada luka yang masih basah?
“Mas, tambah lagi kopinya?” Ucapku. “Enggak Nas udah” kata Udin temanku. “Jangan mas,  nanti senyumnya jadi hitam” cegahku ketika dia mulai ke tiga kali menyulut bom penyakit yang katanya menyebabkan impotensi, kangker, gangguan janin dan bla-bla-bla. Dengan senyum sedikit, dia masih saja bandel seperti dulu ketika ia mengajar di satu instansi di suatu sekolah. Cerobnong asappun mengpul lagi, seakan dia akan kehabisan bahan bakar kalau cerobong itu berhenti. Akupun menyadari beban berton-ton telah ia bawa.

“Mas sudah melamar di mana saja?” aku lagi-lagi yang mulai menodong pertanyaan. “Hampir setiap lowongan itu sudah kumasuki, bahka aku juga sudah pergi ke kalimantan untuk memenuhi panggilan inteview tetapi hasinya sepeti membuang uang sambil naik turun tangga” keluh kesah bapak yang sekarang sudah mau tiga anaknya. Satu anaknya mempunyai disablelitas tuna rungu, sehingga harus sekolah di SMP 33 SLB. Satu anaknya lagi sekarang mau masuk usia TK dan satu lagi sudah lima bulan dikandungan istrinya.

Aku sadar keperluannya bukan hanya pendidikan anak tetapi juga cicilan rumah di Juanda memang tidak sedikit jumlahnya. “Mas, sabar ya!” redamku untuk menghentikan getaran hati sementara. “Sebenarnya kalau hanya beaya anak dan cicilan itu aku bisa saja mengolornya dengan berhutang sambil menunggu aku dapat pekerjaan, tetapi istriku kini telah selingkuh!” Wajah yang segar tadinya, kini mulai mengeriput seperti kangkung segar dimasukkan air mendidih 100 derajad. “Lho, bentar mas, jangan menuduh kalau atidak ada bukti, meski itu istri sendiri” bilangku untuk mengetahui sebatasman dia tahu perselingkuhan istrinya yang dituduh-tuduh.

“Gini Nas, aku sering memeriksa HP istri saya, aku menemukan sms dari kepala sekola dengan nada yang tidak wajar. Aku juga pernah menelpon istri saya, dik lagi dimana? Katanya di SMP 22 untuk rapat, tetapi ketika saya mengecek kebenarannya semuanya itu bulsit. Saya sudah tanya kepalanya SMP 22 katanya tidak ada rapat” Cerita teman ku menggebu tentang istrinya yang sekarang jadi waka kurikulum di sekolah swasta.
“Trus, apa yang kamu lakukan?” “Aku tidak tahu!, aku bingung”
“Nas, kamu jangan sampai mendapatkan istri yang sukanya menuntut hak” katanya. “Wes tah Nas, jangan mendapatkan istri dari kota, rata-rata kayak gitu.” bilangnya lagi.
 “Jika suami lagi susah, mereka meremehkan. Jika suami sedang mapan, mereka ingin menghabiskan”. Aku manggut-manggut sepeti burung kakak tua yang sedang hinggap di cendela. “Mas pokoknya gak boleh diremehkan, ayo semangat. Ini ujian, saya yakin ini ujian. Kalu mas bisa melewati ujian ini, mas benar-benar orang yang mulia” bilangku bersemangat. “Trus, jangan memulai pertengkaran dengan istri, gunakan jurus playboy. Seperti katamu dulu bahwa kamu pintar bermain!”

Kalaupun itu benar, aku tidak bisa menyalahkan istrinya yang sekarang tulang punggung keluarga. Memang sih istrinya salah. Tetapi itukan pilihannya dulu.
Mungkin tindakan si istri adalah buntut dari kekecewaan laki-laki.
Memang temanku ini dulu anak orang kaya. Tetapi setelah bapaknya kena penyakit yang sampai-sampai menghabiskan 3 mobil untuk berobat dan meninggal dunia, mulailah kehidupan yang kaya ini mulai sempoyongan. Rumah dijual. Dia mendapatkan uang waisan yang digunakan DP membeli rumah di Juanda itu. Sementara pekerjaan sabagai guru telah berahir. Dia dipecat karena adanya miskomukasi dengan manajemen sekolah.
Nah istri yang dinikahinya ini adalah seorang primadona di kampus pas dia dalam keadaan kaya. Setelah ganti-ganti wanita, dia lebih memilih primadona ini untuk dinikahi. Nah sekarang giliran dia tidak punya pekerjaan. Sang primadona meremehkannya, bahkan berani berselingkuh.
Secara logika, kalau dia sudah berani memilih, pantang untuk menolak apalagi menghinanya. Meski istrinya sekarang selingkuh, itu pilihannya dulu.

Aku hanya dapat berdoa. Semoga ujian temanku ini cepat berahir. Istrinya dapat sabar menunggu sang suami mendapat pekerjaan. Dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada perceraian dan mereka menjadi rumah tangga sakinah, mawadah, wa rohmah. Aminnnn




Sunday, July 7, 2013

Menyambut ramadhan

Gembira, sedih, atau diam? Seseorang bisa saja menyambut ramadhan dengan gembira karena Ramadhan adalah bulan seribu berkah. Semua amal berkali-kali dilipatkan. Satu menjadi seribu, dua menjadi dua ribu, dst tertama pada malam lailatul qodar. Tentu siapa tidak gembira menyambut bulan seribu berkah ini.

Ada juga yang bergembira menyambut bulan ramadhan karena dagangannya akan laris pada bulan ini. Sah-sah saja mengharapkan bulan ramadhan segera datang dengan bergembira karena dagangannya laris tetapi coba disiasati bahwa larisnya karena bulan ramadhan adalah bulan berkah, jadi karena bulan ramadhannya bukan karena larisnya.

Menyambut ramadhan dengan sedih, bisa? salah satu contoh SMS yang masuk ke HP sangat banyak. Hampir semuanya meminta ma'af. Ini membuktikan bahwa teman atau kerabat ingin membebaskan diri dosa adami (dosa dengan sesama). Tentu sedih melihat bahwa diri ini masih banyak dosa adami sementara Allah tidak mengampuni dosa sesama manusia selama manusia yang punya salah tidak meminta maaf. Maka cara satu-satunya untuk membersihkan diri sebelum masuk romadhan adalah dengan meminta ma'af.

Pemandangan yang paling banyak ketika mendekati malam pertama bulan ramadhan adalah ziarah ke kuburan. Jangan katakan bid'ah, karena ziarah jelas-jelas dibolehkan. Beberapa cara untuk meminta ma'af atas dosa adami yang telah meninggal yaitu mendoakannya dan memberi shodaqoh atas namanya. Mereka melakukan itu dengan harapan ahli kubur dapat di ampuni dosanya begitu juga yang mendoakan agar diiklaskan ahli kubur atas dosa-dosa yang bersangkutan dengan nya.

Meski perdebatan tentang apakah diterima do'a-do'a yang ditujukan pada si ahli kubur, saya lebih condong wilayah usaha. Usaha kita dengan mendoakan sebanyak-banyaknya kepada ahli kubur, mengenai diteri dan tidaknya itu adalah hak prerogratif Allah SWT. Apa lagi sangat sangat jelas bahwa do'a anak yang sholeh disebutkan oleh rasullullah SAW, selain amal jariyah dan ilmu yang manfaat.

Memberikan shodaqoh kepada fakir miskin, tentu adalah baik. bagaimana kalau memberikan shodaqoh atas nama ahli kubur diterima atau tidak? hal itu sama halnya dengan do'a. Wilaya diterima atau tidaknya terserah Allah SWT, yang terpenting kita telah berusaha.

Selain sedih karena ingat dosa adami, seseorang bisa saja sedih karena pendapatannya akan menurun karena bulan ramadhan, atau karena payahnya mengerjakan puasa. Tentu kita berdoa semoga bukan kita yang mempunyai sikap seperti ini.

Sikap diam menyambut ramadhon apakah baik? pertanyaan ini menibulkan pertanyaan lagi. Apakah diamnya karena dia menganggap bahwa bulan Ramadhon sama saja dengan bulan yang lainnya atau karena bingung antara gembira dan sedih? *)

Thursday, July 4, 2013

HBD tanpa Wujud

Mendung ini menangis berhari-hari. Menangis tiada henti. Menutupi matahari. Sehingga dingin menyelimuti bumi. Genting pun terasa nyaring berbunyi. Berirama dan bernyanyi. Di depan jendela ku berdiri. Seolah di penjara teralis besi. Mengurung diri. Ingin ku berteriak dan tanpa sunyi. Meramaikan suasana hati. Tapi apa itu punya arti?.
Sudah dua kali ku daftar. Dengan mengirim paket obrol supaya dapat lebih murah dan banyak hal yang ingin ku bicarakan. Lalu ku cari nama mu dalam kontacts di Hpku. Tinggal pencet. Akan tetapi ibu jari terasa berat, kaku dan tidak bisa menyentuh tombol call. Hati mencegah dibalik mulut yang ingin bicara. “Apa cuma ucapan?”. Ah biarlah, lagi-lagi ibu jari telah mati.
Seakan ada seorang yang membututi. Perasaan tidak tenang menggoda. “Apakah aku harus ke toko suvenir ya?” “Tak ah... hujan-hujan begini”. Kemudian mulutku menguap. Ah aku harus pergi ke toko itu” bicaraku dalam hati. “Tapi uangnya siapa yang dipakai?” Kedaadaan memang membingungkan. Pertempuran antara banyangan idealis dengan kenyataannya datang secara bersamaan. Pertempuran itu berkecamuk di otak ini kemudian kuputuskan untuk tidur sejenak sambil menunggu reda.
Saat di ranjang emput dengan bantal yang sudah kelihatan kapukknya. Aku ingat waktu itu di suatu masjid. Engkau menunggu di depan serambi waktu ku sholat. Ketika kukeluar  dari masjid, engkau sudah menyambutku dengan senyuman. Terasa senyumanmu membasuh dua kali kesejukan.
Dengan suara merdu engkau ucapan “Selamat ulang tahu, mas” .
Sekali lagi es kau guyurkan ke hati ini. Di tanganmu ada sebuah bungkusan. Nampak rapi. Aku menduga telah engkau siapkan di rumah. Aku sebenarnya lupa, hari itu adalah ulang tahunku. Tetapi senyum dan sesuatu di tanganmu  membuat ku ingat bahwa hari itu hari ulang tahunku. Aku menduga itu untukku. Dan benar itu memang untukku.
Mas coba dibuka. Akupun menurut seperti sapi yang sudah dicongok hidungnya. Dengan penasaran  bungkusan itu kubuka.
“Wah ... apa ini? sudah tidak sabar ku ingin tahu isinya” kataku.
Dompet indah warna hitam dengan merek terkenal segera muncul dari bungkusan kertas kodo yang telah terobek. Aku sepontan mengucapkan terimakasih. Bagaimana tidak gembira. Bukan hadiahnya, tetapi seumur hidupku, baru kali ini mendapat hadiah di ulang tahunku.
Memang pada kepercayaan yang selama ini ku anut. Ulang tahun sebenarnya bukan dalam hitungan Masehi tetapi Hijriah. Biasanya disandingkan dengan pasaran Jawa. Jumat Pon, Sabtu Kliwon, Ahad Wage, dan seterusnya. Hal itulah yang membuat aku merahasiakan tanggal lahirku. Aku tidak pernah mencantumkan di facebook, twiter, atau blog sekalipun. Sehingga hari ulang tahunku seolah rahasia. Seperti rahasia kenapa hari ini hujan padahal kemarin juga hujan.
 Nyaris selama hidupku tak ada acara hari ulang tahun. Biasanya orang tuaku mengirimkan tetangga bubur merah tiap bulan di hari pasaranku. Bukan tanda ulang tahun, tetapi sedekah makanan supaya selamat. Tetapi pada hari itu ada yang tahu hari ulang tahunku. Entah dia ingat atau di tandainya dalam buku diarinya. Tetapi itu membuatku terharu. Wong aku kadang lupa bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku.
***
Mendung masih mengguyur taman di depanku. Dia tanpa permisi membasahi pakean yang ku jemur tadi pagi. Dia juga telah menyebabkanku flu sampai seperti ini. Lagi-lagi tanpa permisi. Memang aku tahu mendung punya alasan untuk semua perbuatannya itu. Tepai mengapa tidak memberitahukannya? Tapi aku ingin sekali melanjutkan ketikanku dibalik terali besi ini.
Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Aku senang jika engkau senang. Tetapi aku sedih karena aku tak bisa memberimu apa-apa. Ingin sekali kuberikan sesuatu. Tetapi hutangku kini telah banyak. Aku tidak kerja. Aku sekarang pengangguran tanpa upah.
Setahun yang lalu aku bisa memberikan kamu kue dan beberapa hadiah di ulang tahunmu. Aku dulu memang orang yang lumanyan punya penghasilan. Tetapi untuk hari ini aku hampir tidak ada uang sama sekali. Setelah menamatkan program pascasarjana. Aku telah melamar ke mana-mana. Bukan saja di Universitas tetapi juga di beberapa sekolah. Rupanya pada hari-hari ini sulit sekali menjadi seorang guru. Tahukan bahwa guru sekarang? Guru sekarang ini laris manis, karena ada sertifikasi.
Bukan hanya tidak punya uang. Hari-hari iniaku merugi, bahkan merugi seratus persen dari biaya modal. Jualan dari kulaanku sekarang tidak laku. Sementara penagih sudah datang hilir mudik. Aku bingung harus cari hutangan di mana untuk menebus itu semua.
Sebenarnya bukan hanya itu. Aku bisa saja memberikan sesuatu yang indah. Sesuatu yang mengesankan. Tetapi aku kini telah bertunangan. Aku tidak mau terjadi perselingkuhan. Aku ingin menjaga hubungan kita. Hubungan teman. Hubungan silaturahim. Aku tidak ingin terjadi kesalahan.
Banyak sekali terjadi kesalahan. Kesalahan karena katanya aku memberikan harapan palsu. Katanya aku telah menghianatinya. Itu semua bermula dari pemberian sebuah hadiah.
Masih ingit beberapa bulan lau ada seorang cewek yang sekarang seakan bermusuhan. Pada hal aku hanya menghadiainya ke Ampel karena dia tidak pernah ke sana.Kemudian dia mengira-ngira sendiri bahwa aku telah menjalin hubungan dengan dia. Ketika tahu aku bertunangan akhirnya dia memarahinya dan mengatakan aku telah mengecewakannya. Aku telah berkhianat kepada dia.
Ada lagi yang gara-gara menghadiai engan cara mengajari sepeda motor sampai bisa, ternyata juga disalah artikan. Hal-hal seperti inilah yang membuatku takut untuk memberikan sesuatu.
Akhirnya mendung memang tidak memberikan alasan kenapa memberi hujan. Bahkan mendung kini telah menenggelamkan jalan, rumah , sawah. Dia memberikan semua tanpa alasan. Aku bukan mendung, meski alasannya baik. Aku ini manusia, maka seribu alasanpun aku punya, meski itu cuma alasanku saja*).



Ambarukmo plaza vs pasar tradisional