Saturday, August 17, 2013

“Merdeka atau Mati!”

Judul itu senada dengan judul makan atau kelaparan!, minum atau kehausan!, berpakaian  atau telanjang!, menikah atau zina!, sholat atau masuk neraka!, belajar atau bodoh!, bekerja atau tidak punya uang!, tanya/membaca atau tersesat!.
Solusi supaya tidak mati (sia-sia) adalah merdeka. Meski dalam merebut kemerdekaan banyak pejuang yang mati. “Merdeka atau mati!” merupakan pernyataan pilihan . Meskitpun memilih merdeka tetapi belum tentu kematian tidak terpilih juga. Tetapi paling tidak dengan memilih kemerdekaan, anak cucunya akan merdeka. Biarlah aku mati, anak dan cucuku akan menikmati. Seboyan merdeka atau mati memang luar biasa nilai perjuangannya.
Jika memilih mati, maka itu adalah suatu keputusasaan. Padahal dalam agama tidak boleh seseorang putus asa dengan rahmat Allah. Ini sulit, seseorang diminta selalu bersyukur dengan pemberian Allah dan selalu berusaha. Sekali usaha gagal, usaha lagi gagal lagi. Seharusnya dia tetap berusaha lagi, karena perinta Allah untuk tidak putus asa dengan rahmatNya.  Jadi merdeka atau mati mengandung arti untuk terus berusaha dan tidak kenal putus asa.
Merdeka atau mati juga dapat diartikan bahwa merdeka harus direbut dari penjajah meski resikonya mati. Hal ini tentu bernilai keberanian. Berani untuk mati, hanya untuk kemerdekaan pertiwi. Keberanian sangat dianjurkan dalam islam. Keberanian akan memicu semangat untuk tetap maju. Berjika lembek ataupengecut hanya membuat musuh menjadi sombong dan takabur. Sehingga berdosa seseorang yang menjadikan orang lain sombong. Kalau ada orang sombong kita wajib melebihi dia dan mengatakan bahwa kamu tidak ada apa-apanya dari pada sang Pencipta Alam dan isinya.
Merdeka atau mati juga mengandung makna kepasrahan. Kepasrahan yang luar biasa, mati atau hidup adalah kehendak Allah SWT. Kalau belum waktunya mati, di bompun tak akan mati. Kalau sudah waktunya mati, tidak ada yang dapat memundurkannya atau memajukannya. Hemm... Memang kepasrahan aau tawakal itu tidak lepas dari usaha, kepasrahan itu setelah usaha. Kita tidak sepenuhnya hanya pasra. Kita harus berusaha, hasilnya kita pasrahkan pada Yang Menentukan Taqdir.
Pakailah prinsip merdeka atau mati. Merdeka adalah kepastian selama kematian dalam keadaan khusnul khotimah. Sedangkan kematian adalah kepastian meski kita merdeka atau tidak merdeka karena semua manusia akan mati. Kemerdekaan sejati ketika Allah memasukkan dalam surganya. Kemerdekaan di dunia bukanlah ukuran. Tetapi ingat matilah yang akan mengingatkan kita pada akan adanya hari pembalasan dimana kebebasan Allah untuk menilai tanpa ada interfensi dari manapun untuk tidak adil. Manusia tidak akan merdeka bila dia penuh dosa. Sebaliknya Allah akan membebaskan kita dari ketidak merdekaan kalau kita sudah tidak punya dosa lagi.
Merdeka bukan berarti bebas dari segalanya. Karena bebas dari segalanya itu juga bukan merdeka namanya. Merdeka berarti adanya aturan yang tidak merugikan. Merdeka berarti bebas dari ketidak adilan. Merdeka berarti bebas tetapi mentaati. Budak belum merdeka, maka budak itu mengalami ketidak adilan. Dia bekerja tanpa upah, dia melakukan keinginannya tidak diperbolehkan.


Mati adalah tercabutnya nyawa yang membuat semua organ tidak berfungsi lagi. Ketika manusia mati maka jasad hanyalah seonggok benda yang akan hancur dan membusuk. Mati tidak bisa ditunda atau dimajukan. Kematian adalah hal yang misteri, tidak ada yang atahu kapan manusia akan dicabut nyawanya oleh malaikat izroil.  Siapa yang tidak bisa mati?, maka sadar sebelum dikubur di dalam peti atau kayu jati, atau tanah liat yang cacingnya sudah menanti. Memang ada mati dikremasi/ mati di laut di makan hiu, mati di udara tersangkut pohon. tapi ruh sudah dijabut dari jasad. Itulah mati namanya. Masih kah sombong, dengki, riya’, atau penyakit lainya akan tetap diteruskan? Masihkan kita berbuat kejelekan kalau ujung-ujungnya juga mati? Mati menyadarkan manusia untuk mengingat bahwa yang Maha pembuat hidup akan mencabutnya dan akan diminta kembali ruh yang telah dipinjamkan kepada manusia. Ya mati... Ingatlah mati.
Merdeka atau mati. Kalau tidak merdeka belum boleh mati. Kalau mau mati merdeka dulu. Merdeka dari dosa. Mati membawa amal ibdah. Merdeka ayo merdeka merebut dari kekangan hawa nafsu dan syetan-syetan yang terkutuk.





Wednesday, August 7, 2013

Pertama kali

"Assalamu'alaikum Wr. Wb. Mas, Sdoyo kluputan Qlo njhenegn ngpuntn ngheh lhir lan bathin . . . MINAL'AIDIN WAL FAIDZIN,... Umi Kulsum. 

Ketika kubaca SMS itu, runtuh mata keangkuhan. Huruf-demi huruf perhatianku membuat hati akan jatuh. Nada-nada kesopanan membuatku terhempas dalam kesejekukan. Gelombang cinta, kasih, dan sayang seolah diturunkan Tuhan dari SMS itu. Aku tak tahu lagi harus bilang apa. Aku sangat bahagia ternyata engkau masih menyelipkan namaku di ujung syaraf kecil diatara jutaan nouron di otakmu.

Kubaca lagi-lagi dan lagi. Kutimang-timang layar HP ini. Ku sayang-sayang. Huruf-huruf begitu indah. Seindah lautan bergelombang yang menghantamku, tetapi aku selamat. Seindah aku kelaparan engkau telah memberi makan. Seindah aku terdampar dalam lautan kau beri aku tumpangan.

Entah lebay atau hiperbola. Yang jelas leba-lebah di kandang telah menghasilkan mau. Bola-bola sedang di oper kepadaku. Bahagia tak terkira. entah apa yang harus ku ucapkan. Hanya sapaan kecil, tapi efeknya  meruntuhkan dunia.

Baru pertama kali dia ada inisiatif SMS. Aku tidak tahu apa dia yang SMS atau orang lain yang membuatkannya. Entah tulisannya acak luar biasa. Atau apalah, yang jelas aku senang- sesenang-senangnya dia SMS kepada ku.

Sebelum itu, dulu aku sering SMS dia. 10 kali SMS baru 1 kali dijawabnya. Apalagi telpon, tidak satupun dia berani mengangkatnya. Semenjak itu aku bersumpah untuk tidak SMS dia, atau telpon dia. Saya anggap HPnya rusak, tak dapat dipakai. Saya beranggapan dia sudah tidak punya nomor.

Semenjak saat itu, saya tidak ada lagi hubungan apapun dengan dia. Sejak saat itu aku cuek. Apa yang engkau derita aku menganggap kamu tidak menderita. Apa yang engkau rasakan aku anggap engkau tidak merasa. Apa yang engkau keluhkan aku tidak akan menyahutkan. Bagaimana saya tahu, kamu tidak beri kabar atau berita.

Hari ini engkau SMS itu. Engkau itu tunanganku. Apakah kamu mengerti betapa aku ingin menghubungimu. Mengapa engkau tidak mengerti bahwa ku menderita disini. Merindukan seseorang sebagai pelipur hati. Apalagi godaan dunia yang tidak ada ujung dan akhirnya. Tapi semuanya hanylah fatamorgana.

Wahai kekasih hati, engkau dambaan hati. Engkau harapan ku, sebagai ibu dari anak-anakku. Wahai calon istriku aku ingin berbicara denganmu, meski hanya satu huruf engkau menjawab pertanyaanku. Huruf itu telah melegakan tanda tanyaku.

Salahkah jika ku inginkan dengar suaramu? Apakah suaramu itu merdu? Ataukah seperti neneklampir yang tertawa di film-film itu? Aku tak peduli, aku ingin bibirmu berkata meski satu huruf saja. Aku tak tahu harus berbicara jurus apa? yang kutahu cuma satu, sabar menunggu kita menikah!!!

Entah ini hubungan apa? aku hanya tahu kamu hafidhoh. Itu alasanku mempersuntingmu. Aku bodoh dalam hal itu. Aku berharap kamu bisa melengkapi hidupku dengan lafadz-lafadzmu. Engkau membentengiku dalam agama yang kau dalami sejak MI itu. Engkau harapanku.

Tapi keinginan tinggal menunggu. Yang jelas pertama kali inisiatif SMS mu telah mengobati sebagian luka hati yang sudah dalam ini. Pertama kali aku tunggu dua, tiga, dan miliaran ketika kita menikah nanti.


Ambarukmo plaza vs pasar tradisional