Thursday, December 17, 2015
Kurikulum 2013 PAUD
Contoh Program Harian RKH RPH PAUD Kurikulum 2013. Contoh Program Harian PAUD TK/KB/TPA/SPS Kurikulum 2013. Contoh program harian TK, contoh program harian KB, contoh program harian TPA, program harian SPS.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) adalah unit perencanaan terkecil dibuat untuk digunakan dan memandu kegiatan dalam satu hari. RPPH disusun berdasarkan RPP Mingguan yang berisi kegiatan–kegiatan yang dipilih dari indikator yang direncanakan untuk satu hari sesuai dengan tema dan sub tema. Penulisan RPPH disesuaikan dengan model atau pendekatan yang telah ditentukan atau dipilih serta disesuaikan dengan jenis Kegiatan atau Metode/Strategi, pada saat pembuatan rencana kegiatan mingguan.
Rencana pelaksanaan pembelajaran harian (RPPH) adalah perencanaan program harian yang akan dilaksanakan oleh pendidik/pengasuh pada setiap hari atau sesuai dengan program lembaga. Komponen RPPH, antara lain: tema/sub tema/sub-sub tema, alokasi waktu, hari/tanggal, kegiatan pembukaan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
RPPH adalah perencanaan program harian yang akan dilaksanakan oleh pendidik/pengasuh pada setiap hari atau sesuai dengan program lembaga. Komponen RPPH, antara lain: tema/sub tema/sub-sub tema, alokasi waktu, hari/tanggal, kegiatan pembukaan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Friday, December 11, 2015
Tuesday, March 24, 2015
Sunday, September 28, 2014
Saturday, February 1, 2014
Tuesday, September 17, 2013
Lereng Gunung
Apa yang sedang kau cari? Pekerjaan atau ilmu atau ridho ilahi? Jarum tajam siap menghunus. Batu-batu itu nampak semrawut. Aspal sudah terkelupas. Batu itu seakan terlahir dengan ujung runcingnya. Mereka bahkan bisa saja menjebolkan pertahanan sepeda motorku. Tentu jebolnya ban sepeda motorku berarti jebol pula pengeluaranku untuk nambal atau ganti yang baru.
Kiri-kanan kulihat saja banyak pohon jati yang merana. Ku bukan bernyanyi tapi ini kenyataan yang sepi perhatian. Pohon jati itu telah banyak menggugurkan daun mereka sendiri. Musim kering sudah tiba, seperti keringnya kantong dompet dari gambar Sukarno-Hatta atau gambar Ngurarai. Hanya tinggal pangeran Patimura yang sedang membawa samurai siap menebas permen-permen di toko sebelah ketika mulut kering dan pahit.
Kucoba masuk ke dalam jalanan beraspal tipis dan berbatu. Aku ragu di dalam sana ada perumahan atau sekolahan. Semakin dalam sepeda motor menerobos jalan makadam, semakin culas batu-batu itu menikam-nikam ban sepeda motor.
Terlihat sedikit kehidupan!!! Masjid besar dengan arsitektur mewah terlihat di depan mata. Debu-debu berputar-putar seperti di film the mummy. Debu-debu sisa-sisa semen itu ditiup angin. Debu itu menghujani masjid yang memang belum jadi betul. Besar, sangat besar menurutku. Tetapi mengapa diletakkan di dalam hutan lereng gunung? penasaran semakin menjadi-jadi. Laju sepeda motor kupelankan.
Di samping masjid itu ada beberapa tukang batu sedang asyik dengan keringatnya. Mereka memanjat bangunan yang mirip dengan pensil-pensil yang dioroti menghadap ke atas. Memang sih tidak tabung. Pensil gepeng, kalau kusebut dalam anganku. Pensil gepeng itu berjajar banyak. Di depan bangunan itu ada gambar dan tulisan. Gambarnya memang tidak asing. Gambar itu ku dekati. Memang gambar itu adalah gambar kementrian perumahan. Di bawah gambar dan tulisan seperti kop yang ada keterangan bahwa bangunan itu adalah bangunan rumah susun pondok pesantren Al Ishlah.
Sepeda motorku masih saja berbunyi, guncangan bebek yang memang sudah kendor semua. Ditambah terjalnya jalan seperti menabuh plastik bertubi-tubi. Suaranya memang memalukan hati. Di belakang masjid ada bangunan yang tidak kalah. Bangunan yang memamang baru itu besar juga. Itu adalah bangunan sekolah.
Aku sampai juga diparkiran. Anak-anak berkopyah terlihat polos-polos. Mereka melihati saya, mengkin heran. Kenapa ada DPR kesini hehehe... bukan-bukan, mereka heran karena mungkin tidak pernah ketemu aku.
Aku tanya pada salah seorang diantara mereka. Mana sekolah aliyah kelas XII? memang benar-benar santri. Dia membungkukkan badan sanbil mengacungkan ibu jarinya seperti memberikan like kepada saya. Ibu jari itu mengarah pada arah tertentu. Akupun bilang pada dia "terimaksih ya dek".
Aku menuju ke kelas XII. Kemudian ku masuk. Wanita berkurudung putih, duhai indah sekali, ingin ku kenal siapa meraka itu?. Aku ucapkan salam. "Assalamu'alaikum" mereka pun menjawabinya dengan serentak "wa'alaikumsalam wr. wb." Benar ini kelas XII. "Iya pak" jawab mereka. Saya kemudian basa-basi. "Ma'af saya telat, dan insyaAllah akan selalu telat sekitar 10 menit" Bilangku.
Kepada anak itu, aku jelaskan alasanku telat dan mengatakan seperti itu. Mereka pun menyadari kundisi itu. Ku tanya pada mereka, mana yang laki-laki? kok cuma dua? mereka bilang bahwa temannya masih perjalanan menuju kelas. Tidak lama kemudian datang robongan laki-laki berkopyah. Sayang mereka ada yang pakai sepatu putih, sepatu olah raga, ada pula yang tidak memakai alas kaki. Mereka pun ada yang memakai tas, ada pula yang hanya satu buku. Ada pula yang tidak membawa buku.
Lantas akupun memberikan beberapa peringatan kepada mereka. Lain kali ketika waktu saya, harus membawa paling tidak buku dan bulpen. Karena ilmu itu seperti burung. Dia akan gampang terbang. Maka alat untuk menangkapnya adalah pulpen yang kamu tuliskan di buku tersebut.
Anak-anak mengajak berkenalan dan kita tahu sama lain. Mereka memang anak-anak yang polos. Aku tahu mereka potensinya besar untuk jadi anak yang besar baiknya. Aku yakin jika sekolah ini diatur dengan baik, hasilnya juga akan baik.
Dibalik jendela. Pohon jati melambai-lambai. Mengajak menari di tanah yang luas hamparan rumput yang sudah menguning. batu-batu menjulang inggi disekelilingnya. Menambah ekotisnya panorama. Memang sekolah ini di dalam hutan. Tapi tidak terlalu jauh dari jalan raya. Aku tahu potensi sekolah ini besar, sebesar cita-cita Kiyai. Aku tahu sekolah ini akan jadi besar, sebesar luasnya tanah yang menghampar disekelilingnya. Aku tahu seakolah ini akan besar, sebesar batu-batu gunung yang menjulang disamping kanan kiri depan belakang.
Semoga!!! ini doa guru baru yang masih tak tahu.
SOP
Sinar sentrong matahari mengenyirkan mata. Melawan sinar matahari memang bisa membuat jalan raya tidak terlihat. Truk-truk di depan terlihat saat posisi sepeda motor ini mendekat saja. Tapi apa boleh buat, surat pernyataan sudah ditandatangani. Apa boleh buat mulut sudah bilang iya. Tapi memang ada baiknya juga. Sinar matahari pagi membuat vitamin d terbentuk. Terjadinya osteoporosis bisa dicegah. Mudah-mudahan berkah.... (bukan kampanye).
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di tempat yang memang tidak asing yaitu PCNU Gresik. Kemari kita di sini dan sekarang di sini. Di hari kedua pelatihan SOP ini ruangan masih tidak berpenghuni. Hanya ocehan burung gereja yang lirih-lirih. Juga suara mobil-mobil berbadan gemuk dengan mesin gendut seakan mau berak. Mengeluarkan kotoran hitam berupa timbal-timbal dan gas monoksida serta campuran gas dioksida.
Berbadan gendut lagi pendek hehehe.... tapi cantik, sosok yang juga lagi-lagi tidak asing. Dia adalah wanita yang dulu menjaga perpus saat ku sekolah Aliyah dulu. Dia datang berseta rombongan lengkap dengan seaserahan yang seperti mahar berupa kabel oloran dan beberapa nasi bungkus yang dibawa oleh anak-anak Osis. Teman guru matematika ternyata juga telah datang. Dia menyapaku dengan senyumnya yang khas “Cek pagine...” bilangnya. Saya pun cuma melebarkan mulut sambil memamerkan gigi. Beberapa menit setelah itu, hadir teman-teman guru yang lain. Semakin lama akhirnya semakin lama-semakin banyak.
***
Dibalik kekisruhan dan kesemrawutan otak. Ingin sekali kulampiaskan dengan rokok dan menyendiri ditepi gunung yang terpenghuni atau menyendiri di tepi lautan. Tetapi undangan dari sekolah untuk menghadiri acara SOP menjadi lebih penting dari pada pelampiasan yang hanya sedikit arti. Sesekali ku hanya berpikir dengan pikiran su’udhonku. Jangan-jangan pelatihan ini sama saja dengan pelatihan yang biasanya ku ikuti. Pelatihan yang membuat semangat pada awalnya tapi beberapa hari berikutnya menjadi biasa dan tak berbekas.
Semula aku hanya menyadari bahwa pelatihan hanyalah sekedar omong kosong tanpa bukti. Ya... Mr. Nafi’ namanya. Dia katanya master of trainer. Dia sering keliling dunia. Dia katanya sering melatih di wilayah Indonesia. Berbagai penghargaan yang juga katanya dia raih. Dia juga telah menerbitkan beberapa buku. Dia katanya juga telah menerainer sekolah di Bungah Assa’adah. Dia juga telah melakukan pendampiangan di sana. Ok... ok... usai juga katanya sekarang saya mau lihat bukti.
Semula aku pesimis ini akan menghibur. Karena hiburanku telah menjadi bubur. Ok ini telah berahir, masalahku hanyalah sebuah takdir. Ok... masalahku... biarlah menjadi benakku. Ok.. masalahku biar dia melayang-layang disekitar otakku. Aku semula hanya kabur dan tertutup oleh kecilnya usaha yang lebih menggantungkan ketetapan takdir. Seperti besarnya ketentuan gunung dan kecilnya kerikil usaha. Mudah-mudahan pelatihan ini membawa perubahan.
Tangan diangkat... digerakkan... dipakai menghitung.... satu, dua, tiga.... sepuluh. Sekalarang kedua tangan... kita tulis di awan... satu, dua, tiga,... sepuluh. Sekarang kaki kiri diangkat... kita pakai menulis satu, dua, tiga,.... sepuluh. Sekarang pinggul kita pakai menulis angka... satu, dua, tiga... sepluh. Semua ikut intruksi, termasuk pak Kiyai. Benar-benar kompak. Termasuk pak satpam, termasuk guru2. Semua tertawa. Semua ada makna. Semua gerak bercerita. Memang tiadak materi terucap, tapi terpikirkan sendiri dalam angan-angan.
Tanyangan demi tanyangan berisi gambar. Mercerita tangtang kerapain sepatu yang ditata rapi, tentang membuang sampah pada tempatnya, tentang tertib makan, tentang cara masuk kelas, menyambut siswa, menjawab tlpn. Semua terukur dan dapat dievaluasi. Semua teratur sesuai kaidah ahlak yang islami. Alangkah indahnya bila ini terbawa menjadi karakter diri, karakter siswa, karakter guru dan seterusnya. Mudah muahan karakter ini akan membawa semangatknya bentuk usahaku untuk menghalau pesimis dan mempersilahkan masuk semua bentuk optimis. Semoga
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di tempat yang memang tidak asing yaitu PCNU Gresik. Kemari kita di sini dan sekarang di sini. Di hari kedua pelatihan SOP ini ruangan masih tidak berpenghuni. Hanya ocehan burung gereja yang lirih-lirih. Juga suara mobil-mobil berbadan gemuk dengan mesin gendut seakan mau berak. Mengeluarkan kotoran hitam berupa timbal-timbal dan gas monoksida serta campuran gas dioksida.
Berbadan gendut lagi pendek hehehe.... tapi cantik, sosok yang juga lagi-lagi tidak asing. Dia adalah wanita yang dulu menjaga perpus saat ku sekolah Aliyah dulu. Dia datang berseta rombongan lengkap dengan seaserahan yang seperti mahar berupa kabel oloran dan beberapa nasi bungkus yang dibawa oleh anak-anak Osis. Teman guru matematika ternyata juga telah datang. Dia menyapaku dengan senyumnya yang khas “Cek pagine...” bilangnya. Saya pun cuma melebarkan mulut sambil memamerkan gigi. Beberapa menit setelah itu, hadir teman-teman guru yang lain. Semakin lama akhirnya semakin lama-semakin banyak.
***
Dibalik kekisruhan dan kesemrawutan otak. Ingin sekali kulampiaskan dengan rokok dan menyendiri ditepi gunung yang terpenghuni atau menyendiri di tepi lautan. Tetapi undangan dari sekolah untuk menghadiri acara SOP menjadi lebih penting dari pada pelampiasan yang hanya sedikit arti. Sesekali ku hanya berpikir dengan pikiran su’udhonku. Jangan-jangan pelatihan ini sama saja dengan pelatihan yang biasanya ku ikuti. Pelatihan yang membuat semangat pada awalnya tapi beberapa hari berikutnya menjadi biasa dan tak berbekas.
Semula aku hanya menyadari bahwa pelatihan hanyalah sekedar omong kosong tanpa bukti. Ya... Mr. Nafi’ namanya. Dia katanya master of trainer. Dia sering keliling dunia. Dia katanya sering melatih di wilayah Indonesia. Berbagai penghargaan yang juga katanya dia raih. Dia juga telah menerbitkan beberapa buku. Dia katanya juga telah menerainer sekolah di Bungah Assa’adah. Dia juga telah melakukan pendampiangan di sana. Ok... ok... usai juga katanya sekarang saya mau lihat bukti.
Semula aku pesimis ini akan menghibur. Karena hiburanku telah menjadi bubur. Ok ini telah berahir, masalahku hanyalah sebuah takdir. Ok... masalahku... biarlah menjadi benakku. Ok.. masalahku biar dia melayang-layang disekitar otakku. Aku semula hanya kabur dan tertutup oleh kecilnya usaha yang lebih menggantungkan ketetapan takdir. Seperti besarnya ketentuan gunung dan kecilnya kerikil usaha. Mudah-mudahan pelatihan ini membawa perubahan.
Tangan diangkat... digerakkan... dipakai menghitung.... satu, dua, tiga.... sepuluh. Sekalarang kedua tangan... kita tulis di awan... satu, dua, tiga,... sepuluh. Sekarang kaki kiri diangkat... kita pakai menulis satu, dua, tiga,.... sepuluh. Sekarang pinggul kita pakai menulis angka... satu, dua, tiga... sepluh. Semua ikut intruksi, termasuk pak Kiyai. Benar-benar kompak. Termasuk pak satpam, termasuk guru2. Semua tertawa. Semua ada makna. Semua gerak bercerita. Memang tiadak materi terucap, tapi terpikirkan sendiri dalam angan-angan.
Tanyangan demi tanyangan berisi gambar. Mercerita tangtang kerapain sepatu yang ditata rapi, tentang membuang sampah pada tempatnya, tentang tertib makan, tentang cara masuk kelas, menyambut siswa, menjawab tlpn. Semua terukur dan dapat dievaluasi. Semua teratur sesuai kaidah ahlak yang islami. Alangkah indahnya bila ini terbawa menjadi karakter diri, karakter siswa, karakter guru dan seterusnya. Mudah muahan karakter ini akan membawa semangatknya bentuk usahaku untuk menghalau pesimis dan mempersilahkan masuk semua bentuk optimis. Semoga
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Kutuliskan sepucuk kata-kata yang tidak memberikan arti Tidak usah dibaca ataupun dimengerti Karena ini hanya curahan hati, yang juga serba ...
-
Anda pasti pernah mengalami stress, dipresi, atau banyak tekanan! Memang benar hidup tidak lepas dari masalah sehingga manusia sering menga...

