Monday, April 8, 2013

La Taiasu Dwi


di saat orang lain tidur seperti biasa, engkau berjuang untuk tidak tidur selamanya 
di saat orang lain mendengkur, engkau berjuang untuk menarik nafas di atas kasur
di saat orang lain darahnya mengalir di nadi, engkau alirkan darahmu lewat hidung dan mulut berulang kali
di saat orang lain membuang waktu, engkau menghitung detik untuk hidupmu
di saat orang lain mendustakan nikmat, engkau masih mensyukuri dengan penyakit

Khehh...hem... kheh...hem... saluran pernafasanmu mulai membuntu. Cairan darah telah menyumbat saluran itu. Sesekali batuk kau rasakan. Uhuk-uhuk... muncrat darah dari hidung. Seakan batuk sebagai pendorong sumbatan darah untuk keluar dari hidungmu. Sesekali kau muntahkan cairan merah itu. Ku hanya mendengar dari jauh.

“Mas tolong temani aku satu malam ini saja, ku ndak bisa tidur” SMS itu kubaca setelah kututup telopon dari mu beberapa menit untuk sholat isyak. Ku tekan nomor yang sangat familier, Dewi Novianti. 

Aku: “Hallo, Assalamu’alaikum
Dewi: “Wa’alaikumsalam, mas kemana saja?”
Aku : “Baru sholat dek, bagaimana muntah lagi?”
Dewi: “iya mas”
Aku : “dibersihkan dulu, ambil tisu”
Dewi: ”iya mas, .... mas terimakasih ya”
Aku: “Iya, adek tadi tidak minum obat?”
Dewi: “Ndak, wekkk... “
Aku: “mesti ada wekkk..nya, dek boleh tanya gak?”
Dewi: “Ngak boleh,...... masak ngak bole... tanya apa, kan dari tadi sudah bertanya?”
Aku :”Adek sakit apa, aku ingin tahu?” aku hanya tahu bahwa dia  ada sesuatu di kepalanya
Dewi: “ Ndak ah, mas ... kheh... kheeh... akukan sudah bilang ada sesuatu dikepalaku. Sudah  ah mas jangan   dapat dua tanda tangan kompre, tingal 4 lagi”.
Aku : “mesti mengelak, aku tahu kamu pasti bisa....Dek sakit apa sih, kok katanya gak bisa sembuh?”
Dewi: "Udah lah mas, jangan dibicaraain itu"
aku: Udah tidur, ini sudah jam 11 lebih?"
Dewi: "Gak bisa mas, ... kheh... kheeh... uhuk--uhuk"
Aku: "Ku temani sampai bonusan habis saja ya"
Dewi : " Mas baik deh, oh ya mas pokoknya aku hari selesai sebelum ada apa, aku sudah nemu jurnal identitas diri"
Aku: "Syukur kalau gitu, ndang tidur,...."
Pembicaraan berlangsung hingga jam 12 tetapi dia masih saja berjuang untuk hidup. 

Hampir tiap malam dia harus susah payah menghirup nafas. Aku pun tak punya solusi apa-apa. Ketabahannya dalam menghadapi penyakit itu, memang merubah pikiranku tentatang makna hidup. Setiap detik bagi dia adalah perjuangan. Tiap detik dia harus berjuang untuk memasukkan udara diantara pembulu darah yang sudah membanjiri saluran pernafasannya.  Sementara aku masih membiarkan waktu itu berjalan tanpa perjuangan.

Kantukku sudah tidak tertahankan lagi. Seharian beraktivitas tentu sangat melelahkan, dia mulai yang telpon lagi. Tetapi kantuk tidak bisa dikalahkan. Hanya berdo'a yang kupanjatkan semoga perjuanganmu dicatat sebagai amal ibadah. Karena engkau tidak putus asa seperti pada firmanNya " Walaa taiasu minrohmatillah". Selamat berjuang adekku Dewi, semoga cita-citamu terwujud. 

No comments:

Post a Comment

Ambarukmo plaza vs pasar tradisional