Friday, April 5, 2013

Panen Ria


Mengapa bukan panen raya? Hal ini karena yang  panen kali ini hanya dua orang saja yaitu keluargaku dan pak lek ku. Hal ini karena yang menanam kacang kapri adalah pak lek ku dan keluargaku saja. Hal ini karena orang-orang sudah tidak tertarik lagi dengan menanam. Hal ini karena orang-orang lebih memilih kerja di pabrik dari pada di kebun. Hal ini karena di pabrik lebih besar gajinya dari pada di kebun. Hai ini juga karena kebun-kebun banyak yang sudah dibeli pengembang perumahan.

Iya rantai sebab-akibat. dikarena orang-orang tidak mau menjadi petani menyebabkan terjadinya lahan tidak terpakai. Lahan yang tidak terpakai menyebabkan pemilik lahan ingin menjual. Lahan yang dijual itu mahal menyebabkan yang bisa membali lahan hanya para orang berduit. Yang punya duit itu adalah para pengembang perumahan. Dikarenakan lahan yang sudah dibeli dan dijadikan rumah menyebabkan orang tidak lagi bisa menanam atau menjadi petani.

Kembali ke panenku hari ini. Berbentuk bulat dengan biji hitam dan mempunyai satu mata putih. Dia termasuk kelompok kolo pendem (biji dibawah tanah). Inilah kacang kapri yang ku panen hari ini. Diterik matahari yang sudah mau terbenam mengiringi suasana hati yang sedang gembira mencabut tanaman kecil ini. Sekali cabut seakan muncul dua puluh permata-permata bulat yang siap untuk diambil. Dengan kayu ku mengkorek-korek tanah sehingga nampak jelas kacang kapri berbentuk putih untuk yang muda dan juga agak coklat untuk yang tua. Aku sangat bersyukur sekali panen kali ini banyak isinya.

Aku pergi ke kebun tidak di pagi hari. Ku pergi ke kebun pada sore hari. Ini kulakukan karena aku aku baru sampai di gresik jam 9 lebih. Sementara hari ini hari jum’at. Waktu umat muslim untuk menunaikan ibadah wajib  dengan datang ke masjid mendengarkan khotib. Ya sudahlah aku berangkat habis jum’atan saja. Ternyata keinginan untuk pergi ke kebun setelah jum’atan tidak terkabulkan. Bapak sama Ibuku melarangku ke kebun. Sebenarnya aku memaksa, tetapi mereka tidak memberitahu panen yang dimaksud kebun yang mana?

Ibuku sebenarnya yang bersemangat untuk menanam kapri ini. Ibuku tidak ingin nganggur. Maka dari pada nganggur mending tanah dengan  sewa murah dari desa sebelah mungkin akan menjadi aktivitas yang menyehatkan mereka. Apalagi menanam kapri bukan hanya pada tahun ini saja. Menanam kapri sudah hampir dua puluh tahun yang lalu. Sejak aku MI (sederajad dengan SD) aku sudah pernah panen kapri. Tetapi sayangnya sekarang orang menanam kapri sudah tidak meniraik lagi. Sangat berbeda dengan dulu.

Hampir setahun ibuku merawat kebun ini untuk mendapat panen sekali ini. Dengan perawatan seperti ini membuat orang enggan untuk menanam kapri. Ditambah lagi dengan harga ketika panen dibawah harga normal. Meski demikian kita tetap besyukur, bahkan ketika melihat mutiara-mutiara membuat kami semangat untuk tahun depan menanam lagi. Kalau bukan kita yang menanam, maka apa ada yang menikmati kapri. Kami melakukan ini hanya ingin melestarikan budaya swasembada pangan dengan menanam sendiri kita tidak hanya mampu beli, tetapi kita bisa berproduksi. Terimakasih Allah telah membuat kami tertawa dan bahagia pada panen kali ini.







No comments:

Post a Comment

Ambarukmo plaza vs pasar tradisional