Sunday, March 31, 2013

IBUKU


Meski ini bukan hari ibu, tetapi aku ingin menulis tentang ibu terutama ibuku. Karena aku bangga dengan ibuku. Hari ini meski hari yang sedih buatku, tetapi hari ini aku tetap bahagia dengan sikap ibuku.  Meski hari ini aku sangat sibuk sekali, tetapi aku ingin menyempatkan menulis tentang ibuku. Meskipun pembaca tidak mau membaca status ini, tetapi aku tetap ingin para pembaca membaca tulisan tentang ibukku.

Hari ini, ibunya ibukku alias nenekku sakit. Sebenarnya sudah seminggu beliau sedang sakit. Beliau sudah berumur hampir 90 tahun.  Sakit karena onderdil dari manusia pasti akan aus juga, termasuk  nenekku. Onderdil yang dipaki selama 90 tahun tentu sangat tua. Apasih di dunia ini yang tidak fana?, Tentu yang kekal hanya Tuhan Yang Pencipta.
ö@ž2uqs?ur n?tã ÇcyÛø9$# Ï%©!$# Ÿw ßNqßJtƒ ôxÎm7yur ¾ÍnÏôJpt¿2 4 4xÿŸ2ur ¾ÏmÎ/ É>qçRäÎ/ ¾ÍnÏŠ$t6Ïã #·ŽÎ7yz ÇÎÑÈ  

Qs. Al Furqon ayat 58: dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.
4s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ  

Qs. Ar Rohman ayat 27: dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Hampir seminggu nenekku sakit, begitu juga ibukku hampir seminggu tidur di rumah nenekku. Kebetulan rumah nenek dan rumahku berdampingan. Sehingga ketika malam beliau dapat tidur di rumah atau tidur di rumah nenek. Meski dapat tidur di rumah, ibuku tetap tidur di rumah nenekku. Bukan hanya urusan tidur malam hari, tetapi juga  siang hari. Ketika ibukku menunggui nenekku, ibuku jarang tidur. Bahkan beliau harus menyapu kulit nenek dengan air panas, membuang kotoran, kencing, dan menanakkan bubur tiap pagi, sore dan juga malam.

Di tegal (kebon) tanaman sudah pada menua. Hampir setahun beliau merawat kebon dan mengharap-harap panen ini. Sementara nenek sudah sakit parah. Pilihan untuk memanen dengan merawat nenek, tentu sangat berat. Apalagi para tengkulak yang biasa menghargai kacang kapri itu tidak lagi ada. Karena di desa yang lain juga lagi panen.  Di desaku yang panen sedikit sehingga, pilihan para tengkulak masih memilih di desa-desa sebelah. Otomtis pilihan cuma dua, memanen dengan tidak merawat nenek atau merawat nenek tetapi kacang akan semakin menua. Meski pilihan ini dua, tetapi tanpa pikir panjang  ibuku menganggap pilihan cuma satu yaitu merawat nenek.
Aku tak tahu harus bilang apa lagi. Yang ku tahu bahwa nenekku sakit, dan ibuku seolah anak yang tidak mau menyia-nyiakan untuk menjadi anak yang berbakti pada ibunya. Apalagi ini adalah hari-hari ibunya sangat perlu dengan anaknya.

Aku juga masih ingat ketika aku dirawat di rumah sakit. Hampir satu bulan aku di rumah sakit, ibuku selalu menemaniku.  Belau tidak pulang, sama sekali tidak pulang. Mulai dipukesmas sampai saya sembuh beliau tetap disampingku. Aku cuma geleng-geleng kepala. Ibuku memang ibu idaman. Kalau ada rekor muri. Ibuku harusnya sudah menerima penghargaan karena menunggu anaknya tanpa putus (24 jam) selama sebulan. Sayangnya rekor muri cuma penghargaan di dunia. Jadi ibuku tidak perlu rekor muri, penghargaan di akhirat jauh lebih besar dari pada rekor muri.

Aku juga melihat tak henti-henti belau bangun pada malam hari. Setiap aku bangun (meski tidak rutin) pasti belau sudah bangun dengan rukuh putihnya. Bahkan setiap sore yang dipegang cuma majemuk syarif. Tahu tho majmuk syarif? Ya majenmuk yang berisi surat-surat populer seperti yasin, Ar-Rohman, Al Waqiah, Al Mulk, do’a-do’a dan seterusnya.

Yang aku pikirkan apakah aku nanti bisa menjadi anak atau ayah yang sholeh (meski masih memikirkan sakit nenek). Anak yang sholeh bagi kedua orang tuaku dan dia bisa berbakti.  Sedangkan ayah yang sholeh kepada calon anak-anakku nanti (masih belum pasti).

Ya Allah ampuni segala dosa semua orang muslim, terutama kedua orang tuaku dan nenekku. Berilah mereka kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amin...

No comments:

Post a Comment

Ambarukmo plaza vs pasar tradisional