Tuesday, March 26, 2013

NAIK BECAK


Hayo tebak, kereta tak berkuda apa namanya? Banyak memang, tetapi menurut lagu anak-anak yang pernah saya dengar adalah becak.Iya, hari ini aku naik becak. tetapi bukan mau tamasya. bukan juga berkeliling keliling kota, tetapi keliling desa. bukan untuk melihat-lihat keramaian yang ada, tetapi mau pergi ke sekolah. maka saya saya panggilkan becak yang kebetulan adalah Ayahku sendiri yang punya.
Aku ingat dengan dosenku, namanya Prof. Suparman, M.Sc. Dia orangnya besahaja. Dia pergi ke kampus tidak pakai mobil, tetapi naik angkot kemudian dia naik becak. Aku sering memergoki beliau menunggu angkot kemudian naik becak.Nampak beliau sangat menikmatibecak yang ia tumpangi. Aku ingin seperti beliau, bersahaja, sederhana, tidak pamerdenagn gelimpangan harta. Atau sombong dengan rentetan gelar yang ia sandang.
Kembali ke naik becak. Aku naik becak bersama dengan ibuku. Yang mengayuh bapakku. Diperjalanan kami semuanya sesekali bercanda, iya sih kadang-kadang ibuku ngomongin orang desa. Dasar memang perempuan, dimana-mana sama, tetapi dengan ngomongin itu aku mengerti kondisi desa sekarang bagaimana. Karena saya jarang pulang,maka update berita tentang desa memang sering dari ibuku.
Seperti berita tentang keponakanku yang minggat dari rumah telah kembali. Seperti yang mau menikah ini adalah misanan (adeknya kakak ipar). Dan banyak hal lain yang diceritakan ibuku. Aku tahu, ibuku lagi memberikan pelajaran kepadaku tentang masyarakat itu harusnya bagaimana.
Di tengah
perjalanan, aku potreti semua pemandangan.Hijaunya rerumput, birunya tambak,suara burung-burung bangau. Kebetulan potret yang kupinjam setelah wisuda kemarin belum kukembalikan. Banyak burung-burung bangau menjadi bidikan kamera itu. Memang hasilnya tidak maksimal karena memotretnya sambil melaju dalam becak.
Becak ini adalah becak orang tuaku, sudah berumur lebih dari hidupku(27 th). Becak inilah yang menghidupiaku dan keluargaku. Saya sangat menghargai becak. Meski di kota-kota besar orang yang becak biasanya sangat kasar, mengganggu lalulintas, membuat pemandangan kota menjadi kumuh. Tetapi jangan salahkan mereka, kondisipendidikandan keterbatasan dana,sehingga mereka melakukan itu. Sebenarnya bagaimana pengaturan pemerintang tentang becak yang harus disalahkan. Siapa sih yang mau menjadi tukang becak, kalau ada kesembapatan yang lebih baik?.

Saya tidak mau memuji bapakku, tetapi bapakku memang orang yang ulet, bahkan dia adalah muadin masjid. Kejujurannya, bahkan dia pernah berkata: saya akan kerjakan selagi mampu, saja akan tuntaskan tanggung jawabku, saya tidak akan meminjam uang atau apapun. dan terbukti sampai sekarang beliau anti dengan hutang.

Semoga belau selalu sehat, dengan becak yang memang membuat dia selau olah raga,selain mencari nafkah untuk keluarga. Belau berumur 64 lebih sehinggamenarik becak tidak lagi seperti dulu.Sekarang beliau lebih santai menikmati hari tuanya. Semoga saya bisa membahagiakan mereka berdua. Aminn...

No comments:

Post a Comment

Ambarukmo plaza vs pasar tradisional